Find Us On Social Media :

Tragedi Jonestown, Peristiwa Bunuh Diri Massal Menggunakan Sianida Hingga Tewaskan 912 Orang

By None, Kamis, 5 September 2019 | 19:12 WIB

Bunuh diri massal.

Grid.ID - Mendengar sianida pasti banyak dari kita yang akan teringat pada kasus pembunuhan wanita bersama Wayan Mirna Salihin.

Kasus yang dikenal dengan pembunuhan kopi sianida itu melibatkan nama Jessica Kumala Wongso hingga kisahnya ramai diperbincangkan.

Selain kisah Jessica Kumala Wongso, ada pula kasus sianida yang tak kalah menghebohkan yang dikenal sebagai Tragedi Jonestown.

Baca Juga: Demi Kesehatan, Berikut Tips Memilih Bra yang Aman untuk Digunakan 

Tragedi Jonestown merupakan salah satu bencana non-alam yang paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

Total korban jiwa akibat bunuh diri massal menggunakan sianida di Joneston mencapai 912 jiwa.

Bahkan tragedi tersebut melibatkan terbunuhnya seorang anggota kongres Amerika Serikat, Leo Ryan.

Baca Juga: 6 Manfaat Dibalik Pahitnya Pare, Ampuh Kurangi Gula Darah Hingga Melawan Sel Kanker

Jim Jones dan Kuil Rakyat

Didirikan pada 1956 oleh Jim Jones, Kuil Rakyat atau Peoples Temple adalah sebuah gereja yang terintegrasi secara rasial untuk membantu orang yang membutuhkan.

Jones awalnya mendirikan Kuil Rakyat di Indianapolis, Indiana, tetapi kemudian pindah ke Redwood Valley, California pada tahun 1966.

Jones menerapkan ideologi komunis pada sektenya, di mana setiap orang hidup bersama secara harmonis dan bekerja untuk kebaikan bersama.

Dia mampu membentuk kompleks komunitas kecil ini di California, namun bermimpi untuk mendirikannya di luar Amerika Serikat.

Baca Juga: Bakar Diri Sampai Hangus, Ritual Sati Bagi Istri yang Ditinggal Suami

Jonestown: Permukiman di Guyana

Jones menemukan lokasi terpencil di negara Guyana Amerika Selatan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Pada 1973, dia menyewa tanah itu dan menyuruh para pekerja untuk membersihkannya karena tertutup hutan.

Hingga 1977, hanya ada sekitar 50 orang yang tinggal di kompleks itu dan Jones masih di AS.

Namun, semuanya berubah ketika Jones menerima kabar bahwa sebuah artikel tentang dirinya akan dicetak di media masa.

Malam sebelum artikel itu dicetak, Jim Jones dan beberapa ratus anggota Kuil Rakyat terbang ke Guyana dan pindah ke kompleks Jonestown.

Baca Juga: Sukses Jadi Musisi dan Politisi, Intip Rumah Mewah Milik Pasha Ungu di Bogor yang Berkonsep Vila Dilengkapi Mini Golf!

Ada yang salah di Jonestown

Ketika mereka di Jonestown, hal-hal tidak seperti yang mereka harapkan.

Karena tidak ada kabin yang cukup untuk menampung orang-orang, setiap kabin dipenuhi dengan tempat tidur susun dan penuh sesak.

Kabin juga dipisahkan berdasarkan gender, sehingga pasangan yang sudah menikah dipaksa untuk hidup terpisah.

Panas dan kelembaban di Jonestown yang menyesakkan membuat banyak penghuninya sakit.

Anggota juga diminta untuk bekerja 11 jam sehari dalam keadaan panas itu.

Baca Juga: 6 Manfaat Dibalik Pahitnya Pare, Ampuh Kurangi Gula Darah Hingga Melawan Sel Kanker

Anggota Kongres Ryan mengunjungi Jonestown

Perwakilan AS Leo Ryan dari San Mateo, California mendengar laporan tentang hal-hal buruk yang terjadi di Jonestown dan memutuskan untuk menyambanginya.

Awalnya semua tampak baik-baik saja, namun suatu malam seorang menyerahkan catatan kepada rombongan Leo Ryan yang berisi daftar beberapa nama penghuni yang ingin pergi dari Jonestown.

Hari berikutnya, 18 November 1978, Ryan mengumumkan bahwa dia bersedia membawa serta siapa saja yang ingin ikut keluar dari Jonestown bersama dirinya.

Serangan di Bandara

Ketika tiba waktunya untuk kabur, anggota Kuil Rakyat bersama Ryan bergegas naik truk hingga menuju bandara.

Sementara pesawat belum siap terbang, anggota Kuil Rakyat pun menyusul untuk menembaki rombongan itu.

Insiden itu menyebabkan 5 orang tewas termasuk Ryan.

Baca Juga: Nasib Mantan Roger Danuarta, Harus Banting Tulang Menjadi Single Parent Hingga Dituduh sebagai Pelakor

Bunuh diri Massal

Sementara itu di Jonestown, Jones sangat panik, gelisah dan mulai berbicara kepada jemaatnya.

Jones memberitahu jemaatnya bahwa mereka sedang dalam keadaan bahaya karena AS akan memburu mereka sebagai balasan serangan terhadap pembunuhan Ryan.

Dia juga memberi satu-satunya jalan keluar dengan melakukan bunuh diri massal.

Jones menyuruh semua orang bergegas. Ceret besar diisi dengan rasa anggur Flavour-Aid, sianida, dan Valium ditempatkan di paviliun sisi terbuka.

Bayi dan anak-anak mendapat giliran terlebih dahulu, mereka menggunakan suntikan untuk menuangkan air beracun ke mulut.

Baca Juga: Tak Mudah Terbuka dan Percaya pada Orang Lain, 4 Zodiak ini Paling Sulit Mendapatkan Teman Baru

Beberapa anggota bahkan sudah mati sebelum yang lain mengambil minuman mereka.

Pada hari itu, 18 November 1978, 912 orang meninggal karena meminum racun, 276 di antaranya adalah anak-anak.

Secara total 918 orang meninggal, baik di bandara atau di kompleks Jonestown. (*)