Hal ini persis seperti yang dialami manusia ketika mengalami gejala penuaan karena faktor luar.
Sementara itu, tikus disebut mengalami penuaan intrinsik seperti manusia karena empat penanda dalam DNA mitokondrianya habis.
(Baca Juga :Viral Berita Produk Mengandung Babi, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Berikan Klarifikasi)
Setelah semua gejala penuaan muncul ketika fungsi DNA mitokondria diturunkan, para ahli kemudian mematikan mutasi tersebut dan mengembalikan fungsi mitokondria.
Hasilnya, kulit keriput dan rambut rontok perlahan hilang.
Tikus-tikus kembali ke wujud awal saat fungsi mitokondria normal lagi.
"Sepengetahuan kami, studi seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya," kata Keshav Singh, profesor genetika di University of Alabama yang terlibat dalam penelitian dilansir Newsweek, Minggu (22/7/2018).
"Dalam uji coba kami, meski kesehatan kulit kembali seperti semula saat mutasi dihentikan."
"Namun organ-organ penuaan lainnya yang ada di dalam tubuh tidak kembali."
"Artinya, mitokondria berperan penting dalam kesehatan kulit, namun tidak untuk organ internal," jelasnya.
Selain membuktikan bahwa mitokondria berperan penting dalam menyebabkan gejala penuaan, temuan ini sekaligus mengungkap bahwa fungsi mitokondria yang menurun dapat dikembalikan lagi ke fungsi semula.
(Baca Juga :Mitos Atau Fakta, Terkena Gerimis Bisa Serang Kesehatan Tubuh?)
Hal yang perlu kita ingat, sejauh ini Singh dan timnya baru mengujicoba pada tikus dan belum pada manusia.
Semoga nantinya studi lebih lanjut dapat membuktikan hal yang sama pada manusia. (*)
Artikel ini telah tayang di Intisari Online dengan judul Akhirnya Ilmuwan Berhasil Temukan Cara Atasi Penuaan dan Kembali Muda