Selain itu turut serta pula seorang teknisi asal India bernama Bidha Ram, Abdul Gani Handonotjokro, atase perdagangan RI di Singapura Zainal Arifin dan istri Constantine.
Saat itu Agresi Militer I Belanda sedang berlangsung.
Maka di daerah pulau Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jogjakarta yang merupakan ibukota Indonesia sedang sengit-sengitnya pertempuran antara tentara Indonesia versus Belanda.
Belanda yang unggul atas penguasaan udara dalam agresi militernya selalu melakukan patroli udara.
Patroli udara semakin ditingkatkan setelah pihak AURI berhasil melakukan pengeboman udara terhadap kedudukan militer Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa.
Lantas saat memergoki ada pesawat Dakota hendak menuju Maguwo, pesawat tempur patroli Belanda berjenis P-40 Kitty Hawk yang berasal dari lanud Kalibanteng (sekarang Ahmad Yani) dipiloti oleh Lettu B.J Reusink dan co-pilot Serma W.E. Erkelens langsung tancap gas mengejarnya.
Baca Juga : Dapat Julukan Kota Emas, tapi Inilah Sisi Miris dari Dubai
Tepat diatas langit Bantul, Dakota VT-CLA diperintahkan untuk segera mendarat oleh Kasau Suryadi Suryadarma.
Namun dari kejauhan melaju cepat P-40 Kitty Hawk Belanda tadi.
Sampai dijangkauan serangan, P-40 langsung memberondongkan pelornya ke Dakota.
Akibatnya pesawat Dakota jatuh dan terbakar di Dusun Ngoto, Bantul.
Yang tersisa dari pesawat hanya bagian ekornya saja.
Semua penumpang tewas dalam peristiwa itu kecuali Abdul Gani Handonotjokro.
Untuk menghormati jasa dan perjuangan ketiganya yang gugur besrama maka Adi Soemarmo dijadikan nama bandara di Solo yang sebelumnya bernama Panasan, Adi Sutjipto di Jogja (Maguwo) dan Abdulrahman Saleh di Malang (Lanud Bugis). (Seto Aji/Grid.ID)