Baca Juga : Tiga Ekor Buaya Nyasar di Kali Anak Ciliwung, Salah Satu Jenisnya Langka!
Melansir dari kompas.com, proses tersebut menghasilkan gas rawa yang terdiri dari gas metan (CH4), karbonmonoksida (CO), karbondioksida (CO2), hidrogen sulfida (HS), dan sulfur (S).
Siswandi Kastari menjelaskan, "Gas ini dapat keluar ke permukaan setiap saat, hanya saja intensitasnya lebih tinggi ketika kemarau karena ada retakan di lapisan tanah permukaan.
Kebetulan di permukaan kondisinya kering sehingga terlihat meletup-letup seperti mud volcano."
Pihaknya menambahkan bahwa gas yang keluar dari sumur tersebut tidak berbahaya karena berada di ruang terbuka.
Meski begitu, gas rawa tetap berbahaya karena mengandung karbondioksida dan karbonmonoksida.
Sementara itu, Siswandi Kastari menjelaskan bahwa gas bisa terbakar karena mengandung gas metan.
Baca Juga : Harga BBM Non Subsidi Naik, Pengguna Premium dan Pertalite Tak Perlu Khawatir
Kepala BPBD Cilacap, Tri Komara, mengatakan bahwa petugas sudah meninjau lokasi pada Selasa (9/10/2018).
Warga diimbau untuk tidak terlalu dekat dengan sumur tersebut dan tidak menyalakan api di lokasi. (*)