Deden Siswanto pun tak kalah memesona menginterpretasikan koleksi busana pria bergaya kontemporernya ke dalam suguhan dramatis nan apik lewat koreografi, tata lampu dan musik yang berbeda.
Istilah “Deden banget!” juga tercetus kala Stylo Grid.ID melihat potongan kemeja berkerah tinggi yang dipadu gaya styling kain di kanan-kiri atas bawah lengkap dengan topi, tas dan properti detail yang dipikirkan Deden.
Sekali lagi, Deden berhasil dengan menghadirkan gaya yang Stylo sebut ‘Royal Etnik Kontemporer’ dalam setiap potong koleksi busananya.
Desainer lainnya pun tak kalah mahir memanjakan mata para tamu yang hadir dengan karya koleksinya.
Sebut saja Geraldus Sugeng yang memilih nuansa playful lewat bahan bermotif yang dituangkan ke dalam warna-warni terang berani seperti hijau neon, merah, dan kuning serta warna monokrom.
Geraldus Sugeng paham benar bahwa permainan motif pada busana akan memberi kesan ‘ramai’ sehingga pemilihan siluet busana pun jatuh pada potongan H-line yang tegas dan feminin, namun tetap menonjolkan lekuk tubuh.
Sedikit saja kekurangan dari koleksi Geraldus adalah motif printing yang belum terlihat unik dan berbeda dari koleksi busana lainnya.
Motif yang jika Stylo Grid.ID tidak salah mirip dengan baroques ini mungkin bisa dieksplorasi lebih baik lagi di koleksi Geraldus Sugeng mendatang.
Lampu sorot pun beralih kepada koleksi rancangan desainer muda Bramanta Wijaya asal Semarang yang belum lama menggelar fashion show tunggal di Hotel Gran Mahakam, Jakarta.
Aksen tassel yang disusun sedemikian rupa di sepanjang gaun menjadi daya tarik utama gaun putih rancangan desainer yang sudah 6 tahun berkecimpung di dunia mode.
Rencana Kim Sae Ron Sebelum Meninggal, Sempat Ubah Nama sampai Akan Buka Kafe Usai Kena Cancel Culture
Penulis | : | Ridho Nugroho |
Editor | : | Ridho Nugroho |