Direktur Komite Eksekutif untuk Kampanye Emirat Ramah Bayi Sharjah, dr Hessa Khalfan Al Ghazal menjelaskan kalau ASI sangat tahan banting.
ASI dapat mempertahankan nutrisi utamanya, bahkan selama puasa.
Akan tetapi, memang tidak peduli apakah ibu berpuasa atau tidak, sangat penting untuk mempertahankan pola menyusui selama Ramadan guna memberi bayi rasa kesinambungan dan ritme.
Busui harus memastikan volume ASI dan frekuensi menyusui mendekati normal saat menjalani puasa.
"Jika seorang ibu memilih untuk berpuasa, sangat penting bagi dia untuk mengisi kembali nutrisinya dengan diet seimbang yang mencakup semua kelompok makanan utama saat dia berbuka setiap hari, dan kembali ke kebiasaan makan normalnya segera setelah Ramadan," kata Hessa.
Sebaliknya, ibu menyusui disarankan tidak berpuasa jika sedang menjalani resep obat atau menderita kondisi serius.
Kondisi tersebut seperti migrain yang tidak terkontrol, masalah tekanan darah, dan diabetes.
Baca Juga: Apakah Ibu Hamil Boleh Puasa Ramadan 2022? Yuk Ketahui Penjelasannya Berikut Ini
Lebih lanjut, dikutip Grid.ID dari Kontan.co.id, WHO turut menjelaskan soal puasa bagi ibu menyusui.
Wanita hamil dan ibu menyusui harus meminta pendapat dokternya untuk mendapatkan rekomendasi apakah boleh puasa atau tidak.
Selain itu, ada menu buka berbuka puasa yang bisa dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui.
Misalnya, sup yang kaya akan sayuran, salad sayuran hijau, labu, terong, serta dada ayam.
Jangan lupa minum banyak air yang bisa ditambahkan irisan lemon atau daun mint untuk menambah rasa.
Untuk menu sahur, ibu hamil dan menyusui bisa makan dua potong roti tawar, telur dadar dicampur sayur, telur rebus, serta beragam sayuran.
(*)
Profil Wicky Victor Olindo, Suami Yunita Siregar yang Punya Profesi Mentereng dan Berstatus Duda
Source | : | Kompas.com,Kontan.co.id |
Penulis | : | Devi Agustiana |
Editor | : | Devi Agustiana |