Alasannya, yakni Arief diketahui terus memprotes proses pemilihan rektor yang dianggapnya tak demokratis dan penuh kecurangan.
Oleh pimpinan, Arief dianggap merugikan dan merusak citra universitas.
Mash dari sumber yang sama menyebutkan, sejak kecil Arief merasa sering diperlakukan tak adil, kecamuk politik yang berlangsung seiring pertumbuhannya, serta kepekaannya terhadap ketidakadilan, bertaut dengan hal lain agaknya punya peranan dalam altruismenya.
Perlu diketahui, altruismenya adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memerhatikan diri sendiri.
"Ada teman bilang, kalau tak ada pertentangan jangan-jangan saya malah sakit," kata Arief bercanda.
Suka humor
Doktor Sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat (1981) yang sebelumnya mengenyam pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (lulus 1968) ini sebenarnya pribadi yang suka humor.
Humornya kering dan kadang disampaikan dengan dingin.
"Tapi dengan konflik itu saya bisa lebih mengaktualisasikan kebenaran," jelas Arief.
Semua konflik ia hayati sebagai usaha penegakan keadilan yang secara filosofis ia yakini sebagai episode yang tak akan pernah selesai dalam kehidupan.
Itulah yang membuatnya tidak pernah capai berada di tengah kemelut konflik.
Arief Budiman sempat mengajar sebagai Guru Besar di Universitas Melbourne, Australia.
Selain itu, tentu juga peranan istri yang memahami sikap kejuangannya, Sitti Leila Chaerani yang dinikahinya tahun 1967, dua anaknya, Andrian Mitra Budiman (26) dan Susanti Kusumasari (24).
Mereka tinggal di rumah yang berwawasan ekologis di Desa Kemiri, Salatiga.
(*)
Source | : | Kompas.com,Tribunnews.com |
Penulis | : | Devi Agustiana |
Editor | : | Okki Margaretha |